Mamuju, ibu kota Sulawesi Barat, dikenal sebagai wilayah yang kaya dengan potensi sumber daya alam, khususnya di bidang pertanian. Di tengah kekayaan alam itu, ada dua nama yang mencuat sebagai inspirasi bagi banyak petani dan masyarakat setempat: Zainuddin Ridwan dan Zainuddin Tanaman. Keduanya berhasil mengubah nasib dengan ketekunan, inovasi, dan semangat pantang menyerah, hingga menjadi contoh nyata bahwa petani bisa sukses dan berdampak luas bagi lingkungan sekitarnya.
Zainuddin Ridwan lahir dari keluarga sederhana di Mamuju. Sejak kecil, ia sudah terbiasa membantu orang tuanya di kebun, mengenal berbagai jenis tanaman dan teknik bertani tradisional. Namun, kehidupan petani yang penuh tantangan menumbuhkan tekad dalam dirinya untuk memajukan pertanian di tanah kelahirannya.
Usai menamatkan pendidikan menengah, Zainuddin sempat merantau dan bekerja di perkotaan. Namun, panggilan jiwa untuk kembali ke Mamuju dan membangun usaha sendiri menjadi pendorong utama. Ia mulai memanfaatkan lahan keluarga, mengembangkan tanaman kakao dan kopi, dua komoditas unggulan Sulawesi Barat yang memiliki nilai jual tinggi.
Tak berhenti pada metode lama, Zainuddin Ridwan melakukan riset dan belajar dari berbagai seminar serta diskusi petani. Ia mulai menerapkan sistem bercocok tanam ramah lingkungan, penggunaan pupuk organik, dan pengelolaan lahan dengan prinsip keberlanjutan. Ia aktif mengikuti pelatihan yang diadakan pemerintah daerah, hingga akhirnya mampu memperbaiki hasil panen, menjaga kualitas produk, dan mengurangi biaya produksi.
Ketekunan Zainuddin membawa hasil. Produknya mulai dikenal tidak hanya di Mamuju, tetapi juga di wilayah sekitar. Ia pun membentuk kelompok tani, mengajak orang-orang muda untuk ikut serta, berbagi pengetahuan, dan membangun jejaring pemasaran bersama. Dengan strategi pemasaran modern, termasuk memanfaatkan media sosial, produk pertanian Zainuddin semakin dikenal hingga ke luar pulau.
Nama Zainuddin Tanaman menjadi sangat terkenal di kecamatan Tapalang, Mamuju. Berbeda dari Zainuddin Ridwan, ia memilih fokus pada budi daya tanaman hortikultura seperti sayur-sayuran dan buah-buahan lokal, menjawab permintaan pasar yang semakin tinggi akan produk segar dan sehat.
Berawal dari lahan terbatas, Zainuddin Tanaman mencoba menanam cabai, tomat, dan jeruk. Ia memiliki prinsip Tanaman adalah penghidupan, menggambarkan bahwa bertani bukan sekadar pekerjaan, melainkan cara untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat. Ia pun tekun melakukan uji coba varietas cocok dengan kondisi tanah dan iklim Mamuju.
Agar kualitas dan kuantitas panen semakin baik, Zainuddin Tanaman mulai memasukkan teknologi sederhana seperti irigasi tetes, pengendalian hama terpadu, dan pengemasan produk secara higienis. Ia belajar dari petani di Jawa melalui video daring, dan aktif mengikuti pelatihan di balai penyuluhan.
Tak hanya itu, ia membentuk koperasi khusus petani hortikultura. Melalui koperasi tersebut, para anggota bisa mendapatkan bibit unggul, pelatihan rutin, serta akses ke pasar yang lebih luas. Keberhasilan ini membuat pertanian hortikultura Mamuju semakin maju dan mampu bersaing dengan daerah lain.
Perjalanan keduanya tidak mulus. Mereka menghadapi berbagai kendala seperti cuaca ekstrim, harga jual yang fluktuatif, dan akses ke modal yang sulit. Namun, dengan semangat kolaborasi, mereka mencari solusi bersama. Zainuddin Ridwan mendorong kelompok tani memanfaatkan kredit dari bank dan program kemitraan pemerintah, serta menyiapkan strategi diversifikasi produk untuk menekan risiko kerugian.
Zainuddin Tanaman fokus pada pengendalian hama secara organik, menambah nilai jual produknya sebagai produk sehat. Ia juga menggandeng distributor di Makassar, sehingga pemasaran tidak hanya terbatas di Sulawesi Barat.
Kisah sukses Zainuddin Ridwan dan Zainuddin Tanaman bukan hanya milik mereka pribadi, tapi membawa perubahan bagi Mamuju. Banyak petani yang termotivasi mengikuti jejak mereka. Kelompok tani yang dibangun Zainuddin Ridwan kini memiliki sistem bagi hasil yang adil, juga mengedukasi petani agar mampu mandiri. Petani yang tergabung mampu meningkatkan pendapatan hingga 30% dari rata-rata sebelumnya.
Metode ramah lingkungan yang diterapkan keduanya berdampak baik bagi lingkungan. Mereka menanam pohon peneduh di sekitar lahan, menjaga sumber air bersih, dan mengajak masyarakat untuk tidak membakar lahan. Kesadaran akan lingkungan ini menjadi nilai tambah, sehingga pertanian tidak hanya kaya secara ekonomi, tapi juga lestari.
Dedikasi Zainuddin Ridwan mendapatkan penghargaan dari pemerintah daerah sebagai Tokoh Inspiratif Pertanian Sulawesi Barat. Produk kopi dan kakao kelompok taninya meraih sertifikat kualitas dan mulai diekspor ke luar negeri. Zainuddin Tanaman juga meraih penghargaan Petani Hortikultura Terbaik, dengan produknya yang menyuplai pasar modern di Mamuju serta kota-kota sekitar.
Zainuddin Ridwan dan Zainuddin Tanaman berharap akan lebih banyak petani di Mamuju yang berani berinovasi, memanfaatkan kemajuan teknologi, dan mampu membangun jejaring pemasaran. Harapan mereka sederhana, agar pertanian di Sulawesi Barat bisa mandiri, berkelanjutan, dan membawa kesejahteraan bagi banyak orang.
Kisah sukses mereka membuktikan bahwa kunci utama adalah ketekunan, kolaborasi, dan mau bergerak maju. Petani tidak lagi dipandang sebelah mata, tapi sebagai pelaku utama pemberdayaan ekonomi daerah yang berdampak luas. Mamuju kini dikenal sebagai lumbung pertanian yang modern dan lestari, salah satunya berkat dedikasi dua sosok inspiratif ini.