Di tengah-tengah kemajuan pembangunan dan peningkatan ekonomi kreatif, muncullah nama Jufri Hasanuddin yang menjadi inspirasi masyarakat Mamuju, Sulawesi Barat. Berkat kerja keras, ketekunan, dan inovasi tiada henti, beliau bersama Hasanuddin Batik telah mengukir kisah sukses yang patut dicontoh. Kisah ini tidak hanya mengenai pengembangan batik lokal, tapi juga semangat untuk melestarikan budaya Sulawesi Barat agar dikenal di seluruh Indonesia bahkan hingga ke luar negeri.
Kisah sukses ini berawal dari kegigihan Jufri Hasanuddin dalam melihat potensi lokal yang tersembunyi. Pada awalnya, beliau adalah seorang pengusaha yang mencoba berbagai bidang, namun akhirnya jatuh hati kepada batik. Pada tahun 2011, ia mendirikan Hasanuddin Batik di Mamuju. Jufri yang berasal dari keluarga sederhana memahami bahwa batik bukanlah sekadar kain, namun sebuah jati diri yang dapat mengangkat nama daerah Mandar di Sulawesi Barat.
Tidak sedikit tantangan yang dihadapi Jufri Hasanuddin. Mulai dari minimnya pengetahuan teknik membatik, keterbatasan modal, hingga sulitnya mencari pangsa pasar di kalangan masyarakat lokal yang masih belum begitu mengenal batik sebagai kekayaan budaya mereka. Namun, ia tetap optimis dan memulai usahanya dengan modal nekat, hanya bermodalkan dua orang pengrajin dan satu alat canting tradisional.
Salah satu inovasi terbesar yang dilakukan Jufri Hasanuddin adalah menciptakan motif khas Sulawesi Barat. Batik Mandar mengangkat motif-motif lokal seperti perahu sandeq, pohon kelapa, dan ombak, yang merupakan refleksi dari kekayaan alam serta budaya di Sulawesi Barat. Setiap motif yang dibuat memiliki filosofi mendalam tentang kehidupan masyarakat Mandar, sehingga batik Hasanuddin tidak sekadar menjadi produk fashion, melainkan juga karya seni budaya.
Dengan motif-motif unik inilah, batik Hasanuddin mampu membedakan dirinya dari batik daerah lain. Pada pameran pertama di Makassar, batik Hasanuddin Mandar langsung mendapat apresiasi luar biasa dan mulai dikenal oleh masyarakat luas.
Seiring berjalannya waktu, Hasanuddin Batik semakin berkembang. Jufri Hasanuddin gencar melakukan pelatihan kepada para pengrajin lokal, membuka lapangan kerja bagi ibu-ibu rumah tangga, dan remaja di sekitar Mamuju. Dengan metode pelatihan, ia tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar memiliki keterampilan membatik.
Dari dua orang pengrajin, kini Hasanuddin Batik telah mempekerjakan lebih dari 50 orang, kebanyakan dari mereka adalah perempuan yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan tetap. Teknik membatik pun mengalami modernisasi, dengan tetap mempertahankan ciri khas tradisional agar batik Mandar tidak kehilangan identitas.
Keberhasilan Hasanuddin Batik juga didukung oleh penggunaan media sosial dan marketplace online. Melalui promosi digital, batik Mandar hasil produksi Hasanuddin Batik telah menembus pasar nasional bahkan internasional. Pesanan kini datang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bali, serta permintaan ekspor ke Malaysia dan Singapura.
Berkat dedikasi dan inovasi, Hasanuddin Batik telah menerima berbagai penghargaan, diantaranya:
Pengakuan ini semakin memotivasi Jufri Hasanuddin untuk terus mengembangkan brand Hasanuddin Batik agar tetap menjadi ikon batik Sulawesi Barat dan membangkitkan kecintaan masyarakat akan produk lokal.
Selain berfokus dalam meningkatkan penjualan, Jufri Hasanuddin selalu mengedepankan nilai sosial dan budaya. Ia rutin mengadakan workshop dan seminar mengenai sejarah batik Mandar untuk anak-anak dan remaja. Tujuannya agar generasi muda tidak melupakan akar budaya mereka dan mampu menjadi penerus usaha batik.
Dari sisi ekonomi, Hasanuddin Batik telah berkontribusi meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar. Banyak keluarga yang terbantu dan mendapatkan penghasilan tambahan melalui membatik. Selain itu, usaha ini juga sukses menjadi contoh pemberdayaan ekonomi perempuan di Sulawesi Barat.
Pemerintah daerah pun semakin mengapresiasi keberhasilan Hasanuddin Batik dengan menjadikan batik Mandar sebagai seragam resmi pegawai negeri dan penetapan batik Mandar sebagai salah satu produk unggulan daerah.
Dalam wawancara, Jufri Hasanuddin membagikan beberapa prinsip yang ia pegang teguh dalam menjalankan usahanya:
Meski sudah sukses, Jufri Hasanuddin menyadari bahwa masih banyak tantangan. Salah satunya adalah menjaga konsistensi kualitas dalam menghadapi permintaan yang meningkat. Selain itu, ia berharap pemerintah terus mendukung usaha kecil menengah seperti Hasanuddin Batik agar dapat bersaing di level internasional.
Jufri Hasanuddin juga bermimpi agar batik Mandar menjadi identitas utama Sulawesi Barat dan dikenakan oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Ia ingin batik Mandar dapat bersanding dengan batik dari daerah lain seperti batik Solo, Pekalongan, dan Cirebon di pentas nasional.
Kisah sukses Jufri Hasanuddin bersama Hasanuddin Batik adalah bukti nyata bagaimana produk lokal bisa menjadi kebanggaan nasional. Melalui inovasi, kerja keras, dan semangat melestarikan budaya, Hasanuddin Batik menjadi pionir batik Mandar yang tidak hanya memperkuat identitas daerah tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi ekonomi dan pemberdayaan masyarakat di Mamuju, Sulawesi Barat.
Semoga kisah inspiratif ini menjadi contoh bagi para pengusaha muda dan masyarakat luas untuk terus berinovasi dan membangkitkan kecintaan pada produk lokal serta budaya Indonesia.